Selasa, 23 Juni 2015

wajah pdang panjang 2

belum sampai di padang panjang apa bila kita belum menikmati pemandangan yang ada,
mari kita nikmati pemandangan yang ada di bawah ini sebelum anda sampai di PADANG PANJANG.

PDIKM = PUSAT DOKUMENTASI DAN INFORMASI MINANGKABAU
sebuah bangunan berbentuk RUMAH GADANG NAN SEMBILAN RUANG yang di bangun sebagai kegunaan replika istana pagaruyung dan juga sebagai LIBRARY - PERPUSTAKAAN

RUMAH GADANG NAN SEMBILAN RUANG di PDIKM






Hasil gambar untuk PADANG PANJANG

terminal bus padang panjang



WAJAH PADANG PANJANG

KEINDAHAN PADANG PANJANG

untuk melihat dan mengenal padang panjang, mari kita lihat dari gambar gambar di bawah ini, yang mana gambar mewakili dari berjuta kata kata dan kalimat.

YANG PERTAMA Kita perkenalkan adalah MAK ITAM sebutan bagi kereta api berbahan bakar batu bara yang di pergunakan dari jaman dahulu kala di masa penjajahan belanda.

sebelum ada jalan lintas padang - padang panjang - bukittinggi , inilah transportasi utama yang ada di sumatera barat.

MAK ITAM / KERETA API LAMA


LEGENDA MAK ITAM


MAK ITAM YANG BERJASA


TEKNOLOGI TERPENDAM


MAK ITAM SAISUAK



INFO PADANG PANJANG

Kota Padang Panjang
DI SUNTING Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Logo
Semboyan: Padang Panjang kota Serambi Mekah



Kota Padang Panjang
Letak Padang Panjang di Indonesia
Koordinat: 0°27′43,27″LU 100°23′24,34″BT
Negara Indonesia
Provinsi Sumatera Barat
Pemerintahan
 • Wali Kota Hendri Arnis
Area
 • Total 23 km2 (9 mil²)
Populasi (2010[1])
 • Total 104.499
 • Kepadatan 4,500/km2 (12,000/sq mi)
Zona waktu WIB (UTC+7)
Kode wilayah +62 752
Situs web www.padangpanjangkota.go.id
Kota Padang Panjang adalah kota dengan luas wilayah terkecil di Sumatera Barat, Indonesia.

Kota ini memiliki julukan sebagai Kota Serambi Mekkah, dan juga dikenal sebagai Mesir van Andalas.[2] Sementara wilayah administratif kota ini dikelilingi oleh wilayah administratif kabupaten Tanah Datar.


Sejarah[sunting | sunting sumber]
Kawasan kota ini sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Tuan Gadang di Batipuh, pada masa Perang Padri kawasan ini diminta Belanda sebagai salah satu pos pertahanan dan sekaligus batu loncatan untuk menundukan kaum Padri yang masih menguasai kawasan Luhak Agam. Selanjutnya Belanda membuka jalur jalan baru dari kota ini menuju Kota Padang karena lebih mudah dibandingkan melalui kawasan Kubung XIII di kabupaten Solok sekarang.

Kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan sementara Kota Padang, setelah Kota Padang dikuasai Belanda pada masa agresi militer Belanda sekitar tahun 1947.[3]

Geografi[sunting | sunting sumber]
Kota ini berada di daerah ketinggian yang terletak antara 650 sampai 850 meter di atas permukaan laut, berada pada kawasan pegunungan yang berhawa sejuk dengan suhu udara maksimum 26.1 °C dan minimum 21.8 °C, dengan curah hujan yang cukup tinggi dengan rata-rata 3.295 mm/tahun. Di bagian utara dan agak ke barat berjejer tiga gunung: Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan Gunung Tandikat.[4]

Secara topografi kota ini berada pada dataran tinggi yang bergelombang, dimana sekitar 20,17 % dari keseluruhan wilayahnya merupakan kawasan relatif landai (kemiringan di bawah 15 %), sedangkan selebihnya merupakan kawasan miring, curam dan perbukitan, serta sering terjadi longsor akibat struktur tanah yang labil dan curah hujan yang cukup tinggi. Namun pada kawasan yang landai di kota ini merupakan tanah jenis andosol yang subur dan sangat baik untuk pertanian.

Kemiringan Luas (Ha) Persentase (%)
Datar, kemiringan 0-8 % 45 1,96
Bergelombang lereng 8-15 % 419 18,22
Curam, lereng 15-40 % 766 33,30
Terjal, lereng lebih dari 40 % 1.070 46,52
Total 2.300 100
Kependudukan[sunting | sunting sumber]
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2008, Kota Padang Panjang memiliki jumlah penduduk angkatan kerja sebanyak 25.108 orang dengan jumlah pengangguran sebanyak 1.834 orang.[1] Kota ini didominasi oleh etnis Minangkabau, namun terdapat juga etnis Jawa dan Tionghoa.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Institut Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang, dulunya bernama Akademi Seni Karawitan Indonesia
Di kota ini berdiri sekolah agama Islam yang terkenal Sumatera Thawalib, yang merupakan kelanjutan dari sekolah agama yang bernama Surau Djembatan Besi yang didirikan oleh Syekh Abdullah pada masa peralihan abad ke-20.[5] Selain itu juga terdapat pula Institut Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang, dan Perguruan Diniyah Putri.


Jembatan kereta api di Padang Panjang, bagian dari jalur rel kereta api Padang—Padang Panjang
Kota Padang Panjang merupakan kota yang berada pada jalur silang[7] dan terhubung dengan jalur lintas Sumatera. Menjadikan kota ini berada pada posisi yang cukup strategis karena terletak pada lintasan regional antara Kota Padang dengan Kota Bukittinggi, juga dengan Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok dan Kota Solok.

Kota ini juga merupakan pertemuan jalur kereta api dari kota Bukittinggi dengan dari Kabupaten Solok yang akan menuju Kota Padang atau sebaliknya, percabangan jalur kereta api ini terdapat pada Stasiun Padang Panjang.

Sementara untuk melayani transportasi angkutan dalam kota, terdapat mikrolet dan bendi (kereta kuda). Pada kota ini juga terdapat terminal angkutan darat yang bernama Terminal Bukitsurungan.

Saat ini, Pemerintah Kota Padang Panjang tengah mempersiapkan pengaktifan kembali jalur kereta api sepanjang 68,3 kilometer yang mengubungkan Padang Panjang dengan Padang.[8][9]